REVIEW ARTIKEL UNS

MOBILISASI PENDIDIKAN KARAKTER BERBAHAN AJAR NOVEL ALIRAN REALISME SOSIALIS

[B0219059] [SARIROTUL ‘ISHMAH]MAHASISWA PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA (fib.uns.ac.id/program-studi/sastra-indonesia) FAKULTAS ILMU BUDAYA (fib.uns.ac.id)

A. LATAR BELAKANG
Realisme sosialis dalam novel menjadi semakin didewasakan oleh modernisasi, perkembangannya sebagai media ajar pembangunan karakter misalnya. Teori realis sosialis di dalam novel layak menjadi bahan ajar praktis sebab di dalamnya didasari fakta lapangan yang relevan di lingkup sosial. Analogi dan asosiasi yang disampaikan pengarang dalam wujud fiksi menjadi suatu spesialisasi pembelajaran karakter melalui media sastra. Relevansi novel realisme sosialis dengan fakta lapangan sudah pasti mutlak, kendatipun konkretisasinya sebagai media ajar perlu kajian penalaran, dan hal tersebut kemudian mengundang efek lain yang dapat diperoleh dari gagasan pendidikan karakter melalui novel antara lain pembiasaan diri gemar membaca dan menalar.

Tantangan bagi pembaca fiksi, khususnya novel, adalah ketika tertarik untuk memahami dan menghayati tokoh (Suprihatiningsih, Waluyo, & Mulyono, n.d., 2019: 131). Jawaban dari tantangan tersebut adalah jawaban implisit yang selanjutnya merupakan pendidikan karakter itu sendiri.

B. TUJUAN ARTIKEL ILMIAH
Pembelajaran karakter tidak pernah tuntas dalam satu periode, satu kurikulum, maupun satu generasi. Pembelajaran ini dituntut berkembang, baik media ajar maupun bahan ajarnya. Tujuan penyampaian gagasan mengenai sastra, khususnya novel, sebagai bahan pendidikan karakter adalah mengikuti tuntutan tersebut. Mengingat vitalitas karakter dalam pembangunan generasi maju, maka media penggerak pendidikan karakter harus masif dan eksplosif, namun tentu harus tetap mempertimbangkan efektifas dan efisiensinya terhadap objek ajar.

C. PEMBAHASAN
Sastra ditinjau secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta yang diakari kata sas- dan -tra. Sas- memiliki arti mengajar, memberi petunjuk, mengarahkan. Sedangkan -tra berarti alat atau sarana. Dapat disimpulkan bahwa sastra merupakan alat untuk mengajar. Mengikuti perkembangan zaman, lahir karya sastra paling baru yaitu novel yang berasal dari kata novellus dan memiliki arti baru (Perdana, Waluyo, Waluyo, & Maret, n.d., 2019: 150).

Meninjau arti etimologis sastra dan novel sebagai salah satu sastra yang paling banyak diminati, tentu media pembelajaran berbahan novel untuk membangun karakter, layak direkomendasikan. Selain itu, penanaman minat baca dapat dipupuk dari pendidikan ini. Tentu saja alasan lain atas rekomendasi ini adalah karena novel lebih diminati dibanding buku referensi. Program ini dapat diberdayakan secara dini melalui novel anak untuk Pendidikan Anak Usia Dini hingga Sekolah Menengah Atas. Penerapannya sesungguhnya tidak diperlukan mata pelajaran baru, bahan ajar ini dapat dimediakan pada materi ajar yang bersangkutan.

Problematika yang muncul dari program ini kembali pada rendahnya minat baca. Namun upaya ini dapat dipelopori oleh guru-guru maupun pengajar dengan sistemnya masing-masing. Ini bisa menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif apabila pengajar terlebih dahulu memiliki kegemaran terhadap literasi.
Efek yang ditimbulkan oleh pembelajaran melalui novel ini dapat berupa sugesti. Umumnya, usia pelajar merupakan periode manusia mudah terpengaruh terhadap idolanya. Hal tersebut dapat diakali sebagai pembangunan karakter baik melalui figur fiksi yang disajikan suatu novel. Kemudian pemilihan novel dan filterisasi merupakan tugas pengajar yang tidak boleh disepelekan. Paduan upaya-upaya tersebut apabila dipraktikkan secara optimal tentu dapat diprediksi meningkatkan mutu karakter generasi bangsa. Efektivitasnya boleh ditinjau dari beberapa peristiwa yang digerakkan oleh pembaca novel beraliran realisme sosialis, sebagaimana Max Havelaar menjadi latar belakang lahirnya pendidikan di Indonesia dan Tetralogi Bumi Manusia menjadi salah satu latar belakang pergerakan mahasiswa untuk reformasi.

D. KESIMPULAN
Sejauh ini belum banyak pendidikan formal yang menerapkan metode berbahan ajar novel. Pendidikan semacam ini lebih banyak diterapkan oleh taman baca yang tentu akan lebih efektif jika didukung pendidikan formal.




https://jurnal.uns.ac.id/Basastra/article/view/37784
https://jurnal.uns.ac.id/Basastra/article/view/37775
https://jurnal.uns.ac.id/Basastra/article/view/37790
https://jurnal.uns.ac.id/Basastra/article/view/37787
https://jurnal.uns.ac.id/Basastra/article/view/37798


Komentar